Tuesday, November 21, 2006
Transklusivisme, Alternatif bagi Pluralitas?
OBSERVASI AWAL
Dalam pengamatan saya, perbincangan mengenai theologia religionum, “teologi mengenai agama-agama,” telah mencapai titik jenuh. Betapa tidak, wacana ini selalu berputar-putar pada perdebatan siapa yang menjadi pusat: Sang Real, Allah, atau Kristus, yang ditipekan sebagai pluralisme, inklusivisme dan partikularisme/eksklusivisme. Yang jelas, dari tipologi tersebut berkembang cabang dan ranting pemahaman mengenai teologi agama-agama, entah “partikularisme terbuka” atau “singularisme” dsb. Dari masalah tersebut, kemudian ditarik implikasi mengenai siapa yang diselamatkan, dan apakah ada kebenaran dalam agama-agama lain, bagaimana dengan dictum Ciprian extra ecclesiam nulla salus—di luar gereja tidak ada keselamatan.
Namun, berhasilkah semuanya itu? Tergantung siapa yang berbicara. Masing-masing pasti mengemukakan posisinya sebagai yang paling tepat. Namun ketika penulis menarik diri dan melihat “dari luar” perdebatan, toh pada akhirnya semua pihak dan tokoh yang berdiri di baliknya kokoh dengan pandangan masing-masing. Sebutlah, bagi seorang partikularis, nama John Hick tak pernah absen untuk menjadi sasaran tembak. Namun patutlah diakui, hal ini tidak menyelesaikan masalah.
Lebih lanjut, apakah yang telah dihasilkan dari perdebatan mengenai siapa yang diselamatkan, apa yang menjadi pusat, dan adakah kebenaran dalam agama-agama lain? Lagi-lagi harus diakui bahwa tiap-tiap agama memiliki sistem berpikirnya sendiri, yang dibangun dari keyakinan-keyakinan pengendali (control beliefs) yang mustahil diperdamaikan. Jadi, mungkinkah kita bertanya apakah dalam agama lain ada kebenaran? Tergantung pula dengan apa yang dimaksud dengan kebenaran. Bila dipahami sebagai korespondensi dengan kenyataan, dalam hemat saya, hal ini akan bermuara kepada nihilisme, sebab dalam agama terdapat konsep korespondensinya masing-masing dan tidak mungkin sepenuhnya menangkap teori korespondensi di agama lain.
Beberapa pakar menyadari hal itu, dan akhirnya meninggalkan teologi dan beralih kepada etika. Doktrin memecah belah, kebaikan mempersatukan. Demikian ungkap mereka. Tetapi prinsip apa yang melandasi hubungan ini? Yaitu persamaan hak asasi sebagai manusia. Namun solusi ini pun tidak memuaskan karena masih meninggalkan pertanyaan-pertanyaan prinsipal doktriner.
SEBUAH PROPOSAL
Hipotesis: Wacana pluralisme didominasi oleh paradigma dikotomis agama Kristen vs. agama-agama lain, dan hal inilah yang menyebabkan pembicaraan mengenai teologi agama-agama tidak menghasilkan sesuatu yang signifikan. Paradigma ini perlu diubah menjadi narasi Kristen vs. neo-imperialisme.
Dalam menempuh hal ini perlu adanya suatu pemetaan ulang, dengan mengingat pula bahwa sekarang ini pembagian dunia bukanlah Barat-Timur, tetapi Utara-Selatan. Dalam bukunya The Next Christendom: The Growth of Global Christianity (New York: Oxford University Press, 2001), Philip Jenkins menyatakan bahwa secara demografis Kekristenan di Utara yang makin surut didominasi oleh paham pluralis, sedangkan Kekristenan di Selatan yang berkembang dengan pesat menumbuhkan ortodoksinya sendiri dan “fanatisisme” dalam artian tertentu. Di sisi lain, Belahan Utara didominasi oleh negara makmur, sedangkan Belahan Selatan didominasi oleh kemiskinan, penindasan dan diskriminasi.
Menyadari konteks kita di Indonesia, saya semakin yakin bahwa wacana pluralisme dalam tataran ideologis yang kita warisi dari para teolog di Belahan Utara jelas sukar untuk dikerjakan di dalam konteks pergumulan di sini. Kita tidak tahu siapa saja yang diselamatkan Allah. Bahkan kita yang mewarisi tradisi Reformed yang mengakui hasil persidangan Sinode Dort di Belanda (1619) dengan TULIP-nya, kita toh tidak mungkin sepenuh-penuhnya tahu (agnostic) siapa saja yang masuk ke dalam jangkauan kaum pilihan Allah. Hal ini tetap misteri bagi kita, dan merupakan hak prerogatif Allah. Kebenaran ini tidak kita buang, tetapi malah menolong kita untuk merumuskan satu alternatif pandangan.
Dengan memikirkan semua ini, saya mencoba menyimpulkan alternatif pandangan yang saya sebut sebagai transclusivism, yang merupakan kependekan dari transhistorical inclusivism. Ini bukan inklusivisme klasik mengenai Allah sebagai pusat, dengan Kristus kosmiknya yang memungkinkan orang di luar Kristen juga diselamatkan. Inklusivisme ini historis, berarti terjadi dalam ruang dan waktu—dalam ciptaan sebagai panggung pentas kemuliaan Allah; dan lebih dari itu bersifat trans atau melampaui histori. Istilah “transhistori” sebagaimana saya jabarkan dalam artikel “FIRDAUS YANG TERHILANG?: SUATU STUDI PERBANDINGAN MENGENAI KRISTOLOGI DAN IMAJI PENCIPTAAN BARU DALAM INJIL YOHANES DAN “INJIL” TOMAS,” yang akan diterbitkan oleh jurnal Veritas.
Penemuan ini didorong oleh penyelidikan atas eskatologi apokaliptik, khususnya dalam PB yang sedemikian detail diungkapkan dalam Kitab Wahyu. Hendaklah Kitab Wahyu tidak dimengerti sebagai nubuatan mengenai kiamat saja, tetapi apa yang Allah sedang dan akan kerjakan dalam sejarah dan ruang-waktu semesta. Maka, dari sini saja jelas bahwa keselamatan itu bukan siapa akan masuk surga.
Serta, bila lebih khusus kita memperhatikan Wahyu, pergolakan yang diketengahkan adalah Kerajaan Allah melawan Babel, Naga dan Binatang Besar. Kerajaan Allah menantang Imperium Global pada zaman itu. Hal ini melandasi perjuangan kita sebagai umat Kerajaan Allah, bahwa perjuangan kita pun melawan kuasa yang mengglobal.
HASIL TRANSCLUSIVISM
Kita tidak akan meneruskan perdebatan yang tidak akan berujung mengenai pluralisme-inklusivism-partikularisme. Tetapi di sisi lain, kita pun akan terhindar dari besikap ateologis, dan beralih kepada etika semata, oleh sebab transclusivism berpijak dari narasi Alkitab mengenai Kerajaan Allah dan perjuangan gereja dalam kuasa penyertaan Allah dan Sang Mesias. Kekristenan akan menampilkan sikap world-embracing dan world-transforming.
Uraian secara komprehensif sedang dalam penelitian.
TERPUJILAH ALLAH!
Monday, November 20, 2006
Tuhan, Adakah Engkau di Masa Kini?
TUHAN, APAKAH ENGKAU ADA PADA MASA KINI?
Seseorang berkata kepadaku, Tuhan bukan Allah masa lalu. Tuhan bukan Allah masa depan. Tuhan tidak ada pada masa lampau. Tuhan tidak ada pula ada masa depan. Tetapi Tuhan ada pada masa kini.
Namun, benarkah? Benarkah Engkau itu ADA pada masa kini? Apakah benar-benar ada MASA KINI? Bukankah masa kini segera berlalu ketika aku memikirkan MASA KINI? Tatkala kurenungkan berapa satuan waktu untuk masa kini, sedetikkah? Bukankah masa itu akan segera menjadi masa lampau pada detik berikutnya?
Itu berarti Engkau segera berada di MASA LAMPAU. Dan, kalaupun aku percaya kepada-Mu, bukankah Engkau hanya ada di MASA DEPAN, dalam pengharapanku saja? Jadi, bagaimana mungkin lidahku sanggup mengatakan yang masa kini?
St. Augustinus telah mengatakan ini di hadapan-Mu, ya Allah. Di hadapan-Mu, ya . . . Hanya di hadapan-Mu saja, yang ada adalah THE ETERNAL NOW. Bagi-Mu tiada masa lalu. Bagi-Mu tiada pula masa depan. Tetapi bagiku? O . . . kiranya ketika aku hendak bermenung sejenak, ternyata tidak ada masa kini, sebab masa kini segera menjadi masa lampau. Bagiku hanya ada masa lampau. Bagiku hanya ada masa depan.
Aku tak mempunyai masa kini!
Maka kuingat sabda-Mu, "Sebab untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Tampak tersirat Engkau Tuhan ada pada masa kini. Tetapi apakah demikian? Engkau menawan perhatianku pada kalimat ucapan-ucapan yang menyertainya, peringatan akan segala tindakan-tindakan-Mu di masa lampau. Dengan mengingat masa lampaulah aku memiliki keberanian hidup di masa depan.
Demikian pula hatiku tertarik dengan ucapan penetapan Perjamuan Tuhan, yang selalu memakai kata-kata, "Setiap kali kamu memakan/meminumnnya, menjadi PERINGATAN akan kesengsaraan Tuhan." Apakah ini sekadar memorial? Bagiku lebih daripada itu. "Peringatan" adalah menghadirkan masa lalu pada masa “sekarang,” yaitu pada SATUAN WAKTU di mana umat-Mu melakukan ibadah korporat. Tetapi seterusnya kalimat penetapan itu berlanjut dengan “sampai Ia datang kembali.” Sekali lagi, masa lampau dan masa yang akan datang kujumpai. Dan ternyata, itulah perspektif yang membentuk “masa kini.”
Di hadapan-Mu, Tuhan, sekarang aku tak berani lagi mengatakan memiliki masa kini. Sebab, Engkau tidak ada pada masa kini. Bila demikian, bagaimana mungkin aku berani untuk hidup pada masa kini? Apalagi, untuk hidup seturut masa kini!
Ya Tuhan, sekali lagi Engkau menyatakan kepadaku betapa aku menjadi seorang yang kesepian! Aku ditinggal seorang diri. Bahkan oleh masa kini! Aku mau hidup untuk masa kini, tetapi masa kini segera berlalu daripadaku. Aku mengejar dan terus mengejar masa kini yang masih menjadi masa depan. Kegigihanku untuk meraih masa kini tak kunjung surut. Aku mencoba, dan gagal! Takkan pernah aku dapat meraihnya.
Maka, bagaimanakah Engkau menjumpaiku dalam “masa kini”? Engkau memperkenalkan kepadaku sebagai Yang Kukenal sekaligus Yang Tidak Kukenal. Engkau adalah Sang Pokok Sukacita, sekaligus Sang Misteri. Engkaulah mysterium fascinosum tetapi Engkau pula mysterium tremendum. Engkau menjumpaiku sebagai “Yang Sama Sekali Lain” (The Wholly Other). Engkau seperti yang kuharap, sekaligus seperti yang luput dari dugaan. Namun kukenal satu hal saja, Engkau tak mungkin bertindak menyimpang dari kebenaran kesejatian-Mu.
Ya Tuhan, Engkau menunjukkan kepadaku bahwa Allah yang kupercayai adalah Allah yang berbeda dengan zaman ini. Karena itulah dalam sejarah kukenal, Engkau mengutus orang-orang yang menjadi terasing bagi dunia. Nabi-nabi-Mu, bahkan Putra-Mu dan para rasulnya. Mereka adalah cemoohan dunia, kebodohan bagi dunia. Bahkan Engkau memilih orang-orang seperti St. Athanasius yang berdiri di hadapan dunia, dan menantang dunia, Athanasius contra mundum! Bukankah seluruh Gereja pada zaman itu hampir-hampir membenarkan ajaran Arius? Bagaimana mungkin mereka semua ini menjadi orang-orang yang sedemikian berani bagi-Mu?
Ya Allah, pada “masa kini” itu yang ada adalah pergolakan, pergumulan, dialektika. Maka . . . “kini” . . . siapakah yang akan menjadi teman seperjalananku?
TERPUJILAH ALLAH!
Sunday, November 19, 2006
"Tujuh Roh" (Why 1.4)
CATATAN MENGENAI “TUJUH ROH” DALAM WAHYU 1.4
(4) Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat yang di Asia Kecil: Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya, (5) dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya
(4) Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat yang di Asia Kecil: Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya, (5) dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya
Pertama, beberapa penafsir pada dekade-dekade lalu menyimpulkan bahwa “ketujuh roh” adalah tujuh malaikat atau penghulu-penghulu malaikat. Hal ini didasarkan pada frase yang mengikutinya “di hadapan tahta Allah.” Diteguhkan lagi melalui tulisan Yahudi 1 Henokh 20.1-8.
Kedua, ada pula yang berpendapat bahwa ketujuh roh itu adalah pembawa tujuh cawan dan sangkakala (8.2; 15.1, 6-8).
Ketiga, alangkah lebih baik mengartikannya sebagai suatu penggambaran figuratif fari karya Roh Kudus. Lebih tegas lagi, karya Roh Kudus dalam segala kepenuhannya. Dalam bagian ini, kita berjumpa dengan “pengungkapan trinitaris”—Allah, Yesus Kristus, Roh—yang merupakan tipikal PB ketika menuliskan karya Roh Kudus. Dengan perkataan lain, karya pneuma selalu diatributkan berbarengan dengan Bapa dan Anak dalam kitab-kitab PB (mis. Yoh. 15.26; 16.13-15; Kis. 2.33).
Frase “ketujuh roh yang ada di hadapan tahta-Nya” diperluas dalam 4.5 di mana dinyatakan “Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh Allah.” Kita tidak perlu merasa dikacaukan dengan frase lain, yakni “tujuh kaki dian emas” (1.12 dab.), yang menunjuk kepada gereja. Malahan kita dapat menarik kesimpulan bahwa Roh itulah yang memberdayakan gereja untuk menjadi efektif sebagai saksi-saksi Kristus di tengah-tengah dunia. Bukan hanya itu saja, bila di 1.4 kita melihat bahwa “ketujuh roh” berimpitan dengan “ketujuh jemaat yang di Asia Kecil,” maka Roh itu adalah dasar dari pesan yang disampaikan dalam seluruh Kitab Wahyu, serta kunci yang memampukan gereja untuk mengerti dan menaati berita tersebut (ingat adagium dari ketujuh surat kepada jemaat di Asia Kecil, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat”)
Kita pun perlu menilik alusi ayat ini dari PL, yang kemungkinan diambil dari Yesaya 11.2 (LXX). Di dalam Septuaginta tersebut, ada tambahan “kesalehan” (godliness) yang menggenapkan enam keutamaan dalam teks Masorah; dan juga Zakharia 4.2, 10, di mana tujuh pelita itu “adalah mata TUHAN, yang menjelajah seluruh bumi.” Lihat terlebih dahulu Zakharia 4.6 yang menjadi kunci, bahwa Tuhan semesta alam bekerja “bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku.” Jadi dalam, Wahyu Roh adalah sarana yang Allah pakai untuk menghancurleburkan keperkasaan dan kekuatan dari naga dan binatang besar (Why. 13).
TERPUJILAH ALLAH!
Kedatangan-Nya Membawa Damai
KEDATANGANNYA MEMBAWA DAMAI
Renungan dari Matius 1.1–17
Renungan dari Matius 1.1–17
1. Pernahkah Sahabat-sahabat memikirkan mengapa Perjanjian Baru dibuka dengan deretan nama? Sangat tidak relevan dengan kehidupan kita sekarang, bukan? Kita toh tidak mengetahui kebanyakan dari orang-orang ini. Informasi dari dalam Alkitab juga minim, kecuali beberapa nama besar seperti Abraham dan Yakub. Kita cenderung membaca bagian ini secara cepat untuk sampai ke kisah kelahiran yang terkenal. Tetapi sesungguhnya, bagi penulis Injil Matius sendiri, deretan nama ini begitu penting untuk memahami kebenaran bahwa Kristus membawa damai bagi dunia. Mari, Sahabat, kita belajar apa artinya kedatangan Kristus membawa damai dari nas yang asing ini.
2. Pertama, inti kedatangan Kristus sebenarnya untuk memenuhi seluruh firman yang Allah sampaikan sebelumnya. Kristus ini adalah klimaks dari berita Alkitab secara keseluruhan. Perhatikan, silsilah itu dimulai dengan Abraham. Bukankah ia yang menerima perjanjian Allah bahwa seluruh keturunannya akan menjadi umat pilihan Allah? Sayang sekali, sejarah begitu jelas mengetengahkan ketidaksetiaan umat pilihan ini. Tetapi di pihak Allah sendiri, Allah tidak menarik ikatan perjanjian itu. Kedatangan Kristus memenuhi seluruh janji yang Allah berikan kepada nenek moyang Israel. Damai itu hadir, berarti seluruh kesetiaan Allah berpadu di dalam pribadi Yesus Kristus.
3. Kedua, kedatangan Kristus adalah untuk semua golongan manusia. Perhatikan kelompok I (ay. 1–6a), yaitu kelompok bapa-bapa bangsa Israel. Mereka adalah orang yang menerima janji Allah, dan yang menikmati Tanah Perjanjian. Kelompok II (ay. 6b–11) adalah kaum ningrat, para pemimpin bangsa dari masa kejayaan hingga pembuangan ke Babel. Kelompok III (ay. 12–16) adalah orang-orang yang hidup pada masa pascapembuangan—orang-orang yang tidak kita kenal dan tidak kita harapkan. Tetapi justru orang yang tidak terkenal malah menjadi target Allah untuk melahirkan Mesias. Perhatian juga kelompok IV, yaitu perempuan-perempuan yang sebenarnya berlatarbelakang tidak baik atau tidak terpandang di masyarakat. Bukankah suatu kebenaran yang jelas bahwa Allah datang untuk kaum yang terhina dan tersisih? Yang tidak masuk hitungan bahkan dibuang oleh masyarakat?
4. Ketiga, kedatangan Kristus adalah untuk memberitakan bahwa Allah itu Raja. Yesus Kristus adalah Mesias. Apa maksudnya Mesias? Yaitu yang menjadi pemimpin umat Allah untuk tunduk kepada Allah. Orientasi manusia diarahkan kepada Allah. Pusat kehidupan manusia adalah Allah. Prioritas hidup manusia seharusnya Allah saja. Inilah tujuan Kristus hadir. Manusia berdosa takkan mungkin sanggup memiliki ketaatan seperti ini. Yang ada hanyalah pemberontakan. Tetapi syukur kepada Tuhan, melalui Yesus Kristus, kita diperdamaikan kepada Allah sehingga dapat patuh kepada Allah.
5. Sahabat, betapa bahagianya seseorang yang menyambut Kristus sebagai pembawa damai pada masa sekarang ini. Apakah Anda orangnya?
Mengapa tanggal 25 Desember?
Memang, 25 Desember semula bukan hari perayaan Kristen. Dalam kebudayaan Romawi kafir dikenal perayaan Natalis Invicti, untuk memuja kelahiran Dewa Matahari. Setelah Kekaisaran Roma menjadi negara Kristen, perayaan yang kadhung familiar di dunia Roma “di-Kristen-kan” dan dijadikan peringatan kelahiran Kristus di bawah titah Kaisar Konstantinus Agung.
Bagaimana sikap kita?
(1) Meski berasal dari kebudayaan kafir, kita tidak perlu bersikap antipati atau menolak Natal. Pengalihan hari raya itu sebagai hari raya umat Kristen menyatakan kebenaran bahwa Yesus Kristus lebih tinggi daripada dewa tertinggi orang Roma.
(2) Ahli Kitab Suci bernama Alfred Edersheim (baca: Ede:syaim) menyelidiki kapankah kira-kira hari kelahiran Kristus. Data yang ia peroleh tentang para gembala yang menggembakan domba di padang Efrata kira-kira berlangsung pada akhir bulan Desember atau awal Januari. Sebelum tanggal 20 Desember, Palestina mengalami musim dingin, dan biasanya para gembala akan segera menggembala selepas musim dingin itu berlalu. Jadi, kelahiran Kristus kira-kira terjadi pada akhir bulan Desember.
Apakah tiap Natal harus ada pohon terang?
Kita menjawab Tidak. Beragam cerita berdiri di balik kebiasaan ini, dari yang kafir sampai yang religius. Tetapi yang paling baik adalah kisah yang dituturkan Martin Luther, sang reformator besar dari Wittenberg, Jerman itu. Di malam Natal, Martin Luther pergi keluar untuk mengambil dahan pohon cemara. Ia meletakkannya di dalam rumah, di samping perapian, dan memasang lilin-lilin kecil di dahan-dahannya. Lalu ia mengundang semua anaknya (berjumlah 25 orang) untuk duduk di bawah pohon Natal itu dan menuturkan kisah-kisah Natal kepada mereka.
Jadi, pohon cemara tidak memiliki nilai pengajaran tertentu, tetapi lebih bersifat fungsional. Meneladani Martin Luther, bila keluarga Kristen memasang pohon Natal, maka seharusnya di dalam keluarga itu kisah-kisah Natal diceritakan kembali dan seluruh keluarga berkumpul untuk mendengarkannya dengan khidmat.
Mengapa kedatangan Kristus disebut damai?
Orang Roma memperingati kelahiran kaisarnya yang diyakini keturunan dewa. Kaisar Agustus, misalnya, dalam sebuah prasasti dinyatakan, “Inilah hari kelahiran penguasa dunia yang membawa kabar baik, yaitu berita damai kepada seluruh penjuru dunia.” Kaisar yang lahir memberi dampak kepada dunia, yaitu damai sejahtera hadir. Orang Roma bangga dengan slogannya Pax Romana (Damai Roma).
Kelahiran Kristus juga disebut “kabar baik.” Kelahiran Yesus di Betlehem menandai era baru yang dipimpin oleh Allah sendiri. Suatu bangsa atau umat kini tunduk dalam pimpinan Mesias utusan Allah. Maka, Yesus yang lahir ini juga secara tak langsung diakui sebagai Raja sama agungnya, bahkan lebih Agung, dari kaisar Roma.
Siapakah orang-orang Majus itu?
Jauh sebelum Kristus, Herodotus, sejarawan Yunani menerangkan suatu kasta pemuka agama di antara bangsa Media di abad ke-6 SM, kasta yang memiliki kemampuan khusus untuk menafsirkan mimpi-mimpi. Para majus masih ada meskipun Kerajaan Media jatuh dan diganti Persia (kira-kira 550 SM), dan berdirinya agama Zoroastrian, maka para majus ini disebut pendeta-pendeta agama Zoroastrian.
Data lain dari Josephus, yang hidup sezaman penulis Injil Lukas, menyebut tentang Atomos, seorang majus dari Cypriot yang bertugas di Kaisarea Maritima, Palestina, pada tahun 50-an, memiliki kekuatan untuk meramalkan masa depan lewat bintang (astrolog), membaca mimpi dan daya magis.
Penjelasan Matius bahwa kaum Majus ini mencermati bintang, kemungkinan besar mereka adalah astrolog. Namun yang lebih penting, Maitus cenderung untuk mempersiapkan pembaca bahwa di antara orang-orang yang mengelilingi Yesus Kristus, terdapat orang-orang asing yang bersedia datang kepada-Nya dan menaruh hormat. Sebaliknya, banyak orang yang sebangsa dan seagama dengan Yesus malahan menolak kehadiran-Nya.
Apa sebenarnya bintang menuntun para majus?
Ada tiga teori.
(1) Astronom dan fisikawan Johannes Kepler menyebutkan, bahwa bintang yang nampak itu adalah bintang yang baru (supernova), yang belum pernah dilihat sebelumnya. Sebuah supernova dapat nampak jauh lebih terang daripada yang lain, sebab bintang itu kemungkinan ratusan juta kali cahayanya dibanding matahari. Teori ini sebenarnya hanya dugaan saja.
(2) Sebuah komet. Edmund Halley (meninggal 1742) menemukan komet yang muncul 77 tahun sekali. Dalam perhitungan astronomis, maka komet ini pernah muncul pada tahun 12–11 SM. Seorang ahli menyatakan, pada saat komet ini tampak menjelang kelahiran Kristus, ia berada di dalam wilayah zodiak Gemini dengan kepalanya menghadap Leo. Hal ini membuka kemungkinan untuk menafsirkan fenomena astronomis (mis. Leo dapat diasosiasikan dengan Singa dari Yehuda).
(3) Konjungsi antarplanet. Yupiter dan Saturnus adalah planet dengan kecepatan revolusi terhadap matahari yang terendah: Yupiter tiap 12 tahun, Saturnus 30 tahun. Setiap 20 tahun sekali, kedua planet saling melintasi. Lebih jarang lagi ketika Mars juga turut berkonjungsi dalam lintasan segaris dengan Yupiter dan Saturnus. Johannes Kepler melihatnya pada tahun 1604, dan ia menghitung hal ini terjadi 850 tahun sekali. Dan, hal ini juga terjadi pada tahun 7–6 SM. Dari kalkulasi para ahli, kita tahu bahwa konjungsi Yupiter-Saturnus terjadi pada bulan Mei/Juni, September/Oktober dan Desember tahun 7 SM, dan pada awal tahun 6 SM planet Mars melintas sehingga membentuk “konjungsi besar,” dan tepat di zodiak bintang Pisces. Zodiak ini bagi orang Yahudi sering diasosiasikan sebagai masa akhir, masa Kerajaan Mesias; sementara Yupiter oleh astrolog Partia diasosiasikan dengan pemimpin dunia. Dan, Saturnus diidentikkan sebagai bintang orang-orang Amori di wilayah Siro-Palestina. Fenomena alam ini yang konon membuat astrolog Partia memprediksikan bahwa akan muncul di Palestina, di antara kaum Ibrani, seorang pemimpin dunia yang menandai masa akhir.
Apakah Bayi Yesus dilahirkan di kandang?
Sebenarnya Lukas 2.7 sama sekali tidak menyebut kata “kandang.” Pemunculan kata “palungan” yang membuat banyak orang menyimpulkan Yesus pastilah dilahirkan di kandang. Kata katalyma yang diterjemahkan “penginapan” menunjuk kepada suatu tempat meletakkan (kata kerja katalyein) bebannya pada waktu berhenti dalam sebuah perjalanan. Jangan sampai kita membayangkan penginapan seperti hotel atau losmen yang memiliki banyak kamar. Mirip dengan sebuah karavan yang dapat menampung banyak orang di dalam satu atap. Para pengunjung tidur di atas dipan yang lebih tinggi dari lantai, dengan hewan berada di bawah atau di lantai yang sama. Nampaknya Yusuf dan Maria kehabisan tempat untuk menginap.
Sedangkan kata phātne (baca: fa:tne) yang diterjemahkan “palungan,” tidak harus menunjuk pada kandang atau gudang. Menurut arkeologi, Betlehem adalah dusun kecil dan kebanyakan anggota masyarakat bukan orang kaya. Mereka tidak punya ruang lain selain rumah yang satu ruang saja. Jadi dengan berkata tidak ada tempat bagi Yesus, Lukas hendak menekankan bahwa keluarga Yusuf tidak menemukan tempat yang cukup untuk meletakkan Bayi Yesus.
Pada abad ke-2, Bapa Gereja Justin bersaksi bahwa Yesus lahir dalam gua. Sampai abad ke-4, keyakinan ini menguat. Kaisar Konstantinus Agung menandai suatu gua di Betlehem sebagai tempat kelahiran Yesus pada tahun 325. Hanya saja, kesaksian gereja kuno ini melampaui minat penulis Lukas untuk menerangkan kelahiran Yesus.
TEPUJILAH ALLAH!
Pemulihan Jati Diri Umat Allah
PEMULIHAN JATI DIRI UMAT ALLAH
YESAYA 44.1–8
YESAYA 44.1–8
Berbicara tentang “jatidiri,” banyak orang memandang kaitannya dengan status dan kelas sosial yang tinggi di masyarakat. Status ini didapat jikalau seseorang mempunyai sesuatu. Makin besar jumlah yang dimiliki maka statusnya di masyarakat juga makin tinggi, dan jatidirinya makin jelas. Diwakili oleh orang Jawa, maka seorang laki-laki disyaratkan untuk memiliki 5 hal supaya diakui keberadaannya: culiga, wisma, kukila, turangga dan wanita.
Tetapi menilik firman Tuhan, kita justru diperhadapmukakan satu kenyataan bahwa jatidiri sebagai umat Allah sama sekali tidak didasarkan pada berapa besar kepemilikan kita. Sejarah yang melatari teks kita justru suasana kehancuran! Orang Israel kehilangan kehormatan. Pada tahun 587 sebelum Kristus, Yerusalem dijarah oleh bangsa asing. Bait Allah dihancurkan. Tembok Yerusalem diporak-porandakan. Israel diangkut ke Babel, sebagai tawanan dan orang terbuang.
Di sini Allah juga tidak menjanjikan pemulihan dengan cara mengembalikan semua harta yang dimiliki oleh orang Israel. Tetapi kita dapat menelusuri 4 hal pemulihan itu:
Apa hakikat pemulihan umat Allah? Yaitu tindakan Allah yang menyatakan kembali bahwa Israel adalah umat-Nya (ay. 1 dan 5).
Membaca teks ini baik-baik, maka kita akan sampai kepada kesimpulan bahwa pemulihan itu tidak mungkin berangkat dari hasrat hati manusia, sebab dosa telah begitu mengikatnya dan manusia sebenarnya menikmati dosa itu! Ya, hidup dalam dosa itu nikmat. Dosa membelenggu manusia dalam segala bujuk dan rayuannya (bdk. 43.22–24).
Allah dengan segala kekayaan rahmat-Nya menyapa bangsa yang berdosa itu sebagai Yakub dan Israel (juga Yesyurun), dan sapaan inilah yang disambut oleh umat kemudian di ay. 5. Siapa yang bertindak terlebih dahulu? Allah!
Apa sumber pemulihan itu? Yaitu Roh Kudus yang dicurahkan Allah kepada umat-Nya (ay. 3).
Jika Allah mencurahkan Roh-Nya, maka sebenarnya Allah sendiri hadir di dalam umat-Nya untuk tinggal bersama mereka. Di dalam Roh ini Allah menanggung semua beban yang umat alami. Sebenarnya ini menjadi penghiburan yang besar bagi kita. Allah tidak meninggalkan kita. Allah menanggung segala beban kita di atas pundak-Nya sendiri—yaitu melalui Roh Kudus yang dicurahkan-Nya untuk tinggal bersama umat.
Apa dasar pemulihan itu? Yaitu pengakuan Allah adalah Raja dan bukan yang lain (ay. 6, 7).
Standar pemulihan itu ialah bilamana umat tak lagi mendua hati. Umat kembali berbalik kepada Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang agung, dan menanggalkan segala macam berhala. Tuhan Yesus juga pernah berkata bahwa seseorang takkan mungkin dapat mengabdi kepada dua tuan: kepada Allah dan kepada Mamon. Faktor kepatuhan dan ketaatan mutlak kepada Allah dituntut ada dalam umat Allah.
Apa dampak pemulihan itu? Yaitu umat menjadi saksi-saksi Allah (ay. 8)
Panggilan pertama Israel adalah menjadi Terang bagi bangsa-bangsa. Maka jika pemulihan itu terjadi, panggilan ini juga dikukuhkan kepada Israel. Umat adalah saksi Allah. Itu berarti dalam setiap perikehidupannya, umat menyandang Allah. Orang dapat memandang Allah yang tidak kelihatan sesungguhnya harus dijawab oleh setiap orang yang mengaku Allah adalah Rajanya. Saksikan dengan penuh sukacita bahwa Allah telah membawa pemulihan ke dalam hidup kita.
Dalam penantian kita akan datangnya kembali Kristus ke dalam dunia, hati kita dipersiapkan dengan merenungkan satu kebenaran bahwa Kristus datang membawa pemulihan. Pemulihan secara individu, keluarga dan komunitas orang percaya. Mari kita melakukan otokritik dan mawas diri. Apakah selama ini hidup kita benar-benar dituntun oleh Allah? Apakah sepanjang perjalanan hidup kita, mulut kita melimpah dengan pujian dan pengakuan bahwa Ia adalah Raja kita?
Dialah Imanuel! Allah beserta kita. Sambutlah Dia dalam kuasa Roh Kudus yang Allah sudah berikan ke dalam hati kita, dan beranilah menjadi saksi bagi nama-Nya.
TERPUJILAH ALLAH!
Pembebat yang Tesayat
PEMBEBAT YANG TERSAYAT
EFESUS 4:17–32
“Kita memimpikan satu dunia yang bebas
dari kekerasan. Satu dunia dengan keadilan dan harapan.
Setiap orang hendaknya mengulurkan tangan kepada sesamanya,
tanda perdamaian dan persaudaraan” (Lirik lagu The Prayer)
EFESUS 4:17–32
“Kita memimpikan satu dunia yang bebas
dari kekerasan. Satu dunia dengan keadilan dan harapan.
Setiap orang hendaknya mengulurkan tangan kepada sesamanya,
tanda perdamaian dan persaudaraan” (Lirik lagu The Prayer)
Izinkan saya menebak pikiran Saudara ketika menyimak lirik lagu di atas. Itu hanya khayalan. Itu sekadar lukisan dalam angan-angan. Kata para intelektual, itu cuma utopia. Mungkinkah satu dunia seperti itu akan hadir, tatkala kita mencermati lingkungan hidup yang sedemikian keras kejam, di mana manusia tak ragu-ragu menjadi srigala buas bagi sesamanya, dan menghalalkan eksploitasi manusia atas manusia? Memang, kita hidup dalam tegangan antara asa (harapan) dan realitas (kenyataan).
Firman Tuhan justru mengajak kita memelihara tegangan di atas. Marilah kita menyebut impian atau asa itu sebagai tujuan akhir atau “cita-cita perjuangan.” Ini penting. Sebab, tinggal diam di dalam kenyataan hidup tanpa memimpikan suatu tujuan akhir sama seperti membangun rumah tanpa pola cetak biru. Seorang Kristen yang tidak memiliki cita-cita perjuangan akan kehilangan orientasi yang utuh dan menyeluruh terhadap makna hidup, kerja, pelayanan bahkan keluarga. Gereja yang tidak memiliki cita-cita perjuangan akan cenderung mengalami stagnasi dan mundur, setiap kegiatan bersifat formal dan rutin.
Apakah cita-cita perjuangan kita? Cita-cita kita sebagai pribadi maupun sebagai kumpulan orang beriman adalah “kemerdekaan Kristen.” Apa maksudnya? Yaitu bahwa kesadaran manusia tidak dapat dibelenggu oleh hukum-hukum manusia. Hukum-hukum manusia tak lain ialah segala peraturan yang “membelenggu jiwa batiniah manusia di hadapan Allah dan yang meletakkan penghalang-penghalang atasnya, seolah-olah harus dilakukan bersandingan dengan hal-hal yang perlu untuk keselamatan” (Calvin).
Dalam teks kita, kemerdekaan Kristen diistilahkan dengan “mengenal Kristus” (ay. 20). Selain Kristus, tiada satu hal pun boleh dikerjakan untuk mengharapkan keselamatan. Bagi seorang Kristen, pengenalan akan Kristus itulah tujuan akhir (bdk. Flp. 3:10). Dalam pengenalan akan Kristus, gaya dan pola hidupnya akan serta merta diubahkan (ay. 25–32). “Sebab seseorang berada di dalam Kristus ia tidak lagi terbelenggu, dan ia pun bebas menjadi seperti Kristus!” itulah inti kemerdekaan Kristen.
Intisari kemerdekaan Kristen dapat kita periksa dari tiga hal berikut ini:
(1) Kemerdekaan Kristen bersangkut paut dengan perilaku yang transparan di bawah pengawasan Allah.
(2) Kemerdekaan Kristen dijumpai dalam tanggung jawab kepada sesama.
(3) Kemerdekaan Kristen tidak membebaskan manusia dari mematuhi peraturan sipil dan hukum-hukum kemasyarakatan.
Jika kita menyadari arti kemerdekaan Kristen, yang kemudian kita lakukan adalah hidup benar di hadapan Allah dan mengupayakan pemulihan untuk kondisi lingkungan hidup kita. Kemerdekaan membuat kita gigih dalam berjuang, “supaya kita memakai karunia-karunia Allah bagi tujuan yang Ia telah tetapkan manakala memberikan karunia-karunia itu.”
Selamat menjadi “pembebat yang tersayat” yang hadir di tengah dunia. Selamat menjadi pejuang-pejuang iman yang rindu mengenal Kristus.
TERPUJILAH ALLAH!
Tuesday, November 14, 2006
Boeat Grc
Rekan seperjuanganku Grc,
Wah, kata orang Jawa, comment Anda di blog “Belajar Hidup!” sangat nggegirisi, alias bikin orang miris dan gentar sekali! Buat saya, jangankan putri, putranya saja kan ya dituntut seperti itu. Masih ingat pesan untuk turun pada jam kantor dan segala yang harus dikenakan dalam jam kantor itu, supaya kelak DI GEREJA dst., dst.? Wow, luar biasa. Yang cukup menggelikan, yang berpesan tidak pernah melayani gereja dalam tempo yang lama. Bukan saja itu, kalau kita mengejar argumentasinya kan pasti jatuhnya pada masukan dari pihak gereja-gereja. Cuma pertanyaan saya sejak dahulu: gereja mana dulu? Dan bagaimana tuntutan itu bisa terjadi?
Ah, saya kok ingin meruntut adanya suatu vicious circle! Kalau gereja sampai seperti itu, dari mana pula asalnya? Mengapa ada sponsor yang berpesan, tapi ternyata di baliknya ada sponsor dan ada sponsor dan ada sponsor ad infinitum? Bagaimana mungkin di dalam gereja berlaku subkultur dan sub-subkultur, yang bila didekonstruksi asalnya toh dari "percetakan" itu juga. Lho, jadi mitos itu kan bikinan sendiri, dan diwariskan turun temurun sebagai pusaka adi luhung!
Bicara tipologi Richard Niebuhr, bukankah CHRIST FROM CULTURE yang terjadi, dan bagi saya kok lebih dari itu: CHRIST SUBMITTED TO CULTURE (bikinan sendiri)? Cobalah kita ingat, pernahkah diajar merefleksikan CHRIST AGAINST CULTURE? Apalagi sampai kepada prasaran Niebuhr sendiri mengenai CHRIST TRANSFORMS CULTURE. Pokoknya jadi anak manis saja di tempat pelayanan.
Mengapa kok tidak ada perubahan? Bagaimana mungkin wong kita ini tidak diajak berpikir teologis? Bepikir teologis berbeda dengan berpikir biblisis. Bila kekuatan kita hanya mampu mengutip dan menjajar ayat sebagai norma-norma, itu biblisis. Berpikir teologis akan membuat kita sadar ada sesuatu yang sedang terjadi, dan ini tidak boleh terjadi terus, sehingga bagaimana teologi berperan dalam merombak konteks itu.
Tapi kita pun tahu, si anak manis sudah berusaha berteologi. Bahkan trinitarian teologi! Doktrin trinitariannya menarik! Pertama, doktrin Allah yang menjadikan segala sesuatu self-sufficient. Tak disadari, kalau Allahnya cukup dengan diri-Nya, ya anak-anak-Nya cukup dengan dirinya. Yang tersirat (dan yang terjadi) kan begitu. Kalau keduanya self-sufficient, mengapa perlu ada perubahan? Kedua, Kristologi "salib" melankolis kan dapat membuatnya berurai air mata, "Kasihan ya Tuhan Yesus, disiksa begitu kok nggak membalas, ya?" Lah kalau Tuhannya digituin diam saja, para pelayan kan perlu mengikut dan meneladani? Dan bila diteruskan, kalau orang lain diperlakukan tidak adil, maka para pelayan itu yang wajib menghibur mereka dan mengingatkan mereka pada penderitaan Kristus. Ketiga, Roh Kudusnya menguatkan di tengah derita, dan apa pun yang didakwakan diterima saja, sebab Roh Kudus kan menjadi Penghibur kita. Ya, ya, trinitarian theology in action juga, bukan?
Tapi Kekristenan seperti itu sungguh merupakan candu! Bagaimana dengan ketidakadilan, kemiskinan, penindasan dan penghisapan atas orang-orang lemah yang menjadi konteks real kita di Dunia Ketiga? Tumpul teologi kita untuk membedah borok-borok masyarakat. Teologi secara tak langsung telah menjadi cemoohan meski paling banyak dipelajari dengan digelarnya seminar-seminar doktriner. Tapi coba yang keluar di mimbar: paling isinya ya memberikan penghiburan kepada yang sedang menderita. Orang diberi janji-janji manis. Alias, orang yang tertindas dibuat lupa dengan deritanya supaya jangan sampai sadar dengan penderitaannya. Sebab dengan dia menjadi sadar, akan bangkitlah orang itu dan geliat orang tertindas tentu tidak menyukakan kaum yang established!
Betapa tumpul pula misi kita. Kita hidup dalam dunia yang kejam. Tetapi berita mimbar dan bahkan artikel akademis mengenai misi dan keterlibatan Kristen mengenai masalah sosial terlalu berani menyimpulkan bahwa kondisi seperti ini adalah akibat seseorang tidak mengenal Allah dan dosa. Sebab itu, seseorang harus menerima Kristus terlebih dahulu, maka semua kesungsangan akan berakhir. Benarkah? Bukankah para mafioso itu pun Kristen dan mereka memberikan persembahan dalam jumlah besar? Betapa mudahnya analisis sosial kita dan menyamaratakan apa yang terjadi sebagai akibat dosa. Benarkah orang yang mengenal Kristus kemudian selalu menjadi agen perubahan?
Bila kembali membuka halaman-halaman depan Alkitab, akhirnya saya harus berkesimpulan bahwa Allah pun diberitakan bertindak reaktif (atau responsif) dengan kondisi di luar. Perhatikan kala tohu wa bohu. Bukankah kemudian Allah menata kosmos dari kondisi itu? Apakah Allah tidak tahu sebelumnya? Allah tahu, tetapi bagi kaum Yahwist-Elohist, tidak ada minat untuk memikirkan di balik apa yang Allah nyatakan dalam penciptaan. Kalaupun kita beranjak bahwa Allah itu self-sufficient, tetapi apakah Allah tidak memiliki masa depan, dalam artinya ada sesuatu yang “berubah” di dalam kehidupan Allah? Bukankah berita Wahyu Allah yang mencipta, dan aktif dalam ciptaan itu pada akhirnya bersekutu dengan ciptaan, yang secara konseptual dapat saya sebut sebagai the-en-panism? (Bukan pan-en-theism!) Saya makin setuju bahwa God’s being is in his becoming, karena Allah becoming God + new creation, di mana Allah akan memenuhkan seluruh bumi dengan diri-Nya sendiri. Poin saya adalah adanya progres di dalam Allah!
Allah berproses!? Ini lain perkara. Bagi saya Tidak! Ia adalah Subjek. Subjek yang punya rancang bangun. Ia tahu apa yang akan terjadi, tetapi apa yang akan terjadi tidak sama dengan apa yang dulu terjadi. Relasi-Nya dengan Israel dan relasi-Nya dengan Mesias Yesus jelas berbeda. Allah tinggal dalam waktu sambil Ia pun berada di luar waktu.
Kalau Allah saja mempunyai becoming, maka saya makin setuju untuk adanya sesuatu yang saya sebut dalam artikel saya eine Umgestaltung von grundaus! Perombakan sampai ke akar-akarnya. Jadi Feminisme dan kesetaraan? Mengapa tidak? Perjuangan pembebasan? Mengapa tidak? Sikap anti terhadap agresi Israel? Anti imperialisme Amerika Serikat? Oo, ada yang makin terusik dengan pertanyaan-pertanyaan lain.
Jadi Kawanku, bagi para teolog dan pelayan jemaat, nampaknya sudah waktunya kita meninggalkan keyakinan “Gnostik gadungan” yang sebenarnya sudah berpuluh-puluh tahun menjadi bagian teologi kita. Kita perlu kembali kepada Yesus Sejarah. Kita perlu menggali filosofi Alkitab mengenai “sejarah.” Kita perlu menegakkan teologi kreasionisme. Itupun kalau kita merindukan terjadinya perombakan paradigma untuk zaman kita: untuk berbicara mengenai sains, keadilan, kesetaraan, pengentasan kemiskinan.
Tetapi marilah kita mengingat: “pasar” kita sekarang ini menghendaki khotbah-khotbah yang therapeutic! Berita mimbar yang memotivasi dan memompa semangat. Khotbah yang diambil dari buku-buku motivator ulung dan model-model how to. Kutipan-kutipan yang menggairahkan dan ilustrasi-ilustrasi kehidupan Chicken Soup.
Kalau kita siap, konkuensinya sedang mengintip: menjadi seperti Yohanes yang berseru-seru di padang gurun. Sendirian. Dan, tidak laku jual!
Nah, kawan-kawan, marilah kita terbuka untuk bertukar pendapat. Ini era keterbukaan.
Hasta la victoria siempre!
TERPUJILAH ALLAH!
Wah, kata orang Jawa, comment Anda di blog “Belajar Hidup!” sangat nggegirisi, alias bikin orang miris dan gentar sekali! Buat saya, jangankan putri, putranya saja kan ya dituntut seperti itu. Masih ingat pesan untuk turun pada jam kantor dan segala yang harus dikenakan dalam jam kantor itu, supaya kelak DI GEREJA dst., dst.? Wow, luar biasa. Yang cukup menggelikan, yang berpesan tidak pernah melayani gereja dalam tempo yang lama. Bukan saja itu, kalau kita mengejar argumentasinya kan pasti jatuhnya pada masukan dari pihak gereja-gereja. Cuma pertanyaan saya sejak dahulu: gereja mana dulu? Dan bagaimana tuntutan itu bisa terjadi?
Ah, saya kok ingin meruntut adanya suatu vicious circle! Kalau gereja sampai seperti itu, dari mana pula asalnya? Mengapa ada sponsor yang berpesan, tapi ternyata di baliknya ada sponsor dan ada sponsor dan ada sponsor ad infinitum? Bagaimana mungkin di dalam gereja berlaku subkultur dan sub-subkultur, yang bila didekonstruksi asalnya toh dari "percetakan" itu juga. Lho, jadi mitos itu kan bikinan sendiri, dan diwariskan turun temurun sebagai pusaka adi luhung!
Bicara tipologi Richard Niebuhr, bukankah CHRIST FROM CULTURE yang terjadi, dan bagi saya kok lebih dari itu: CHRIST SUBMITTED TO CULTURE (bikinan sendiri)? Cobalah kita ingat, pernahkah diajar merefleksikan CHRIST AGAINST CULTURE? Apalagi sampai kepada prasaran Niebuhr sendiri mengenai CHRIST TRANSFORMS CULTURE. Pokoknya jadi anak manis saja di tempat pelayanan.
Mengapa kok tidak ada perubahan? Bagaimana mungkin wong kita ini tidak diajak berpikir teologis? Bepikir teologis berbeda dengan berpikir biblisis. Bila kekuatan kita hanya mampu mengutip dan menjajar ayat sebagai norma-norma, itu biblisis. Berpikir teologis akan membuat kita sadar ada sesuatu yang sedang terjadi, dan ini tidak boleh terjadi terus, sehingga bagaimana teologi berperan dalam merombak konteks itu.
Tapi kita pun tahu, si anak manis sudah berusaha berteologi. Bahkan trinitarian teologi! Doktrin trinitariannya menarik! Pertama, doktrin Allah yang menjadikan segala sesuatu self-sufficient. Tak disadari, kalau Allahnya cukup dengan diri-Nya, ya anak-anak-Nya cukup dengan dirinya. Yang tersirat (dan yang terjadi) kan begitu. Kalau keduanya self-sufficient, mengapa perlu ada perubahan? Kedua, Kristologi "salib" melankolis kan dapat membuatnya berurai air mata, "Kasihan ya Tuhan Yesus, disiksa begitu kok nggak membalas, ya?" Lah kalau Tuhannya digituin diam saja, para pelayan kan perlu mengikut dan meneladani? Dan bila diteruskan, kalau orang lain diperlakukan tidak adil, maka para pelayan itu yang wajib menghibur mereka dan mengingatkan mereka pada penderitaan Kristus. Ketiga, Roh Kudusnya menguatkan di tengah derita, dan apa pun yang didakwakan diterima saja, sebab Roh Kudus kan menjadi Penghibur kita. Ya, ya, trinitarian theology in action juga, bukan?
Tapi Kekristenan seperti itu sungguh merupakan candu! Bagaimana dengan ketidakadilan, kemiskinan, penindasan dan penghisapan atas orang-orang lemah yang menjadi konteks real kita di Dunia Ketiga? Tumpul teologi kita untuk membedah borok-borok masyarakat. Teologi secara tak langsung telah menjadi cemoohan meski paling banyak dipelajari dengan digelarnya seminar-seminar doktriner. Tapi coba yang keluar di mimbar: paling isinya ya memberikan penghiburan kepada yang sedang menderita. Orang diberi janji-janji manis. Alias, orang yang tertindas dibuat lupa dengan deritanya supaya jangan sampai sadar dengan penderitaannya. Sebab dengan dia menjadi sadar, akan bangkitlah orang itu dan geliat orang tertindas tentu tidak menyukakan kaum yang established!
Betapa tumpul pula misi kita. Kita hidup dalam dunia yang kejam. Tetapi berita mimbar dan bahkan artikel akademis mengenai misi dan keterlibatan Kristen mengenai masalah sosial terlalu berani menyimpulkan bahwa kondisi seperti ini adalah akibat seseorang tidak mengenal Allah dan dosa. Sebab itu, seseorang harus menerima Kristus terlebih dahulu, maka semua kesungsangan akan berakhir. Benarkah? Bukankah para mafioso itu pun Kristen dan mereka memberikan persembahan dalam jumlah besar? Betapa mudahnya analisis sosial kita dan menyamaratakan apa yang terjadi sebagai akibat dosa. Benarkah orang yang mengenal Kristus kemudian selalu menjadi agen perubahan?
Bila kembali membuka halaman-halaman depan Alkitab, akhirnya saya harus berkesimpulan bahwa Allah pun diberitakan bertindak reaktif (atau responsif) dengan kondisi di luar. Perhatikan kala tohu wa bohu. Bukankah kemudian Allah menata kosmos dari kondisi itu? Apakah Allah tidak tahu sebelumnya? Allah tahu, tetapi bagi kaum Yahwist-Elohist, tidak ada minat untuk memikirkan di balik apa yang Allah nyatakan dalam penciptaan. Kalaupun kita beranjak bahwa Allah itu self-sufficient, tetapi apakah Allah tidak memiliki masa depan, dalam artinya ada sesuatu yang “berubah” di dalam kehidupan Allah? Bukankah berita Wahyu Allah yang mencipta, dan aktif dalam ciptaan itu pada akhirnya bersekutu dengan ciptaan, yang secara konseptual dapat saya sebut sebagai the-en-panism? (Bukan pan-en-theism!) Saya makin setuju bahwa God’s being is in his becoming, karena Allah becoming God + new creation, di mana Allah akan memenuhkan seluruh bumi dengan diri-Nya sendiri. Poin saya adalah adanya progres di dalam Allah!
Allah berproses!? Ini lain perkara. Bagi saya Tidak! Ia adalah Subjek. Subjek yang punya rancang bangun. Ia tahu apa yang akan terjadi, tetapi apa yang akan terjadi tidak sama dengan apa yang dulu terjadi. Relasi-Nya dengan Israel dan relasi-Nya dengan Mesias Yesus jelas berbeda. Allah tinggal dalam waktu sambil Ia pun berada di luar waktu.
Kalau Allah saja mempunyai becoming, maka saya makin setuju untuk adanya sesuatu yang saya sebut dalam artikel saya eine Umgestaltung von grundaus! Perombakan sampai ke akar-akarnya. Jadi Feminisme dan kesetaraan? Mengapa tidak? Perjuangan pembebasan? Mengapa tidak? Sikap anti terhadap agresi Israel? Anti imperialisme Amerika Serikat? Oo, ada yang makin terusik dengan pertanyaan-pertanyaan lain.
Jadi Kawanku, bagi para teolog dan pelayan jemaat, nampaknya sudah waktunya kita meninggalkan keyakinan “Gnostik gadungan” yang sebenarnya sudah berpuluh-puluh tahun menjadi bagian teologi kita. Kita perlu kembali kepada Yesus Sejarah. Kita perlu menggali filosofi Alkitab mengenai “sejarah.” Kita perlu menegakkan teologi kreasionisme. Itupun kalau kita merindukan terjadinya perombakan paradigma untuk zaman kita: untuk berbicara mengenai sains, keadilan, kesetaraan, pengentasan kemiskinan.
Tetapi marilah kita mengingat: “pasar” kita sekarang ini menghendaki khotbah-khotbah yang therapeutic! Berita mimbar yang memotivasi dan memompa semangat. Khotbah yang diambil dari buku-buku motivator ulung dan model-model how to. Kutipan-kutipan yang menggairahkan dan ilustrasi-ilustrasi kehidupan Chicken Soup.
Kalau kita siap, konkuensinya sedang mengintip: menjadi seperti Yohanes yang berseru-seru di padang gurun. Sendirian. Dan, tidak laku jual!
Nah, kawan-kawan, marilah kita terbuka untuk bertukar pendapat. Ini era keterbukaan.
Hasta la victoria siempre!
TERPUJILAH ALLAH!
Subscribe to:
Posts (Atom)
